Tampilkan postingan dengan label WISATA HERITAGE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA HERITAGE. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2017

Rumah WR Supratman




Rumah WR Supratman

WR. Soepratman merupakan pahlawan nasional. Begitu besar jasa beliau. Dengan biolanya beliau mencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Makam dan museum beliau banyak dikunjungi wisatawan dari dalam dan luar kota Surabaya. Menurut keterangan yang tertulis pada relief dinding di areal makam, WR. Soepratman di lahirkan di Jatinegara Jakarta pada hari Senin 9 Maret 1903 dan meninggal pada 17 Agustus 1938. Beliau anak seorang tentara berpangkat sersan bernama Senen dari Batalyon VIII. Beliau meninggal di usia yang relatif muda akibat sakit-sakitan  tertekan oleh Belanda yang memburu setiap aktivitas perjuangannya. Beliau sempat masuk penjara Kalisosok Surabaya sampai pada akhirnya meninggal dunia. Sejak masih muda WR. Soepratman sudah menunjukkan bakat dan kecintaannya terhadap alat musik gitar dan biola. Pada tahun 1914 berkat asuhan kakak iparnya WM. Van Eldik (Sastromiharjo) akhirnya Soepratman menjadi pandai mencipta lagu dengan bantuan gitar dan biola. Dengan gesekan biolanya WR. Soepratman berhasil menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya.  Meski dalam konggres pemuda yang mencetuskan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 nyanyian lagu Indonesia Raya sempat dilarang keras oleh pemerintah Hindia Belanda. Namun ketika Jepang hampir menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Hingga pada tahun 1944 Jepang memperbolehkan lagu ini dikumandangkan. Pemerintah Indonesia akhirnya menetapkan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan mulai 26 Juni 1958 melalui peraturan pemerintah No. 44/1958. Museum WR. Soepratman terletak tidak jauh dari makamnya. Kira-kira 1 kilometer dari makam beliau. Tepatnya berada di Jalan Mangga Tambaksari Surabaya. Satu hal yang patut kita renungkan sebagai generasi penerus ialah pesan terakhir WR. Soepratman. Adapun bunyi pesan itu “Nasibkoe soedah begini. Inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal saja ichlas. Saja toch soedah beramal, berdjoang dengan carakoe, dengan biolakoe. Saja yakin Indonesia pasti merdeka”.



Rabu, 25 Januari 2017

JEMBATAN MERAH

Jembatan Merah


Jembatan Merah berubaha secara fisik sekitar tahun 1890an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.
Jembatan Merah pernah menjadi saksi hidup dari tentara Indonesia, khususnya pahlawan-pahlawan Surabaya yang berjuang melawan kolonialisme Belanda. Oleh karena itu, tidak peduli kondisi yang mungkin terjadi hari ini, Jembatan merah adalah warisan penting bagi sejarah Indonesia. Jembatan Merah merupakan pahlawan yang masih hidup dan akan terus hidup melawan waktu.

MONUMEN MAYANGKARA

Monumen Mayangkara




Monumen Mayangkara dibangun oleh keluarga besar Batalyon Infanteri 503/Mayangkara Kodam VIII Brawijaya, diresmikan oleh Mayjend TNI Soelarso Pangdam V Brawijaya pada 4 April 1985.

Tujuan dibangunnya Monumen Mayangkara ini adalah selain untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa juga untuk melestarikan jiwa semangat dan nilai-nilai 45 bagi generasi penerus bangsa Indonesia.

Pada sisi kanan kiri dinding monumen pengunjung bisa melihat relief yang menceritakan sejarah singkat batalyon Djarot 503 Mayangkara mulai awal pembentukannya di Kota Surabaya hingga kembali menerobos pertahanan belanda untuk masuk Kota Surabaya.

Seperti disebutkan di Roodebrugsoerabaia.com, nama Mayangkara (Kuda putih pada monumen) berasal dari cerita pewayangan sebagai seorang resi mayangkara, penjelmaan dari hanoman sebagai senopati sakti Panglima perang.

Asal-usul Kuda Mayangkara

Masih bersumber dari Roodebrugsoerabaia.com. Dua bulan setelah berada di daerah Mantup, pada bulan Juli 1946, Mayor Djarot mendapat hadiah dari Kepala Daerah Mantup seekor kuda berwarna putih bernama  Mayangkara. Mengapa kuda yang bagus itu dihadiahkan kepada Komandan Batalyon Djarot? Konon Kepala Daerah Mantup sebelumnya bermimpi kedatangan seorang pendeta yang mengatakan bahwa kuda peliharaannya itu harus diberikan kepada seorang pemimpin pertempuran yang ada di daerah itu. Agaknya terjadi sambung rasa antara yang memberi dan yang diberi. Sebab, menurut pengakuannya, Mayor Djarot pada waktu itu juga bermimpi kedatangan seorang raja mengendarai kuda berwarna putih, sang Raja kemudian memberikan kuda tunggangannya, dengan pesan agar kuda tadi dipergunakan untuk memimpin barisan.

TITIK NOL SURABAYA


Tugu Pahlawan


Tugu Pahlawan terletak di Jalan Tembaan. Tugu pahlawan ini dibangun untuk menghormati parjurit Surabaya yang tewas selama pertempuran besar melawan tentara sekutu yang dilumpuhkan oleh NICA, dan yang ingin menduduki Surabaya pada 10 November 1945. Tugu pahlawan ini terletak di depan kantor gubenur.Tugu pahlawan dibangun dalam bentuk "paku terbalik dengan ketinggian 40,45 meter dengan diameter 3,10 meter dan di bagian bawah diameter 1,30 meter. Di bawah monumen dihiasi dengan ukiran "Trisula" bergambar, "Cakra", "Stamba" dan "Padma" sebagai simbol api perjuangan.Di dalam tugu ini, terdapat Museum 10 November. Museum Sepuluh Nopember dibangun untuk memperjelas keberadaan Tugu Pahlawan tersebut dan sebagai penyimpang bukti-bukti sejarah di 10 November 1945.
Tugu Pahlawan merupakan Titik Nol Kota Surabaya

Monumen Bambu Runcing

Monumen Bambu Runcing 



Bambu Runcing adalah salah satu senjata tradisional yang digunakan oleh tentara Indonesia dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Bambu runcing dipakai untuk melawan para penjajah dihampir seluruh penjuru nusantara, termasuk pada saat pertempuran hebat pada 10 November1945 di kota Surabaya. Bambu runcing dimanfaatkan salah satunya untuk membalas serangan musuh, karena keterbatasan peralatan perang modern saat itu.  Selain keberanian melawan penjajah memanfaatkan bambu runcing, hal ini ditujukan untuk memperlihatkan betapa tinggi nilai nasionalisme dan patriotisme serta semangat para prajurit ataupun warga sipil Indonesia .
Di Surabaya, untuk memperingati nilai juang dan patriotisme itulah, maka Monumen Bambu Runcing dibangun. Terletak di jalan Panglima Sudirman, monumen ini berada tepat di jantung kota Surabaya. Di tengah ramainya lalu lintas kota, monumen bambu runcing menjadi ikon pariwisata kota Surabaya yang berhubungan dengan situs sejarah perjuangan bangsa. Monumen Bambu Runcing terdiri dari 5 pilar dengan tinggi masing masing tidak sama serta dibentuk menyerupai bambu runcing. Pada saat tertentu, terdapat air yang mengalir keluar dari bambu runcing bagaikan air mancur. Disamping itu sekitar area monumen ini dikelilingi oleh taman kecil yang penuh dengan aneka ragam tumbuhan hias. Taman hias tersebut berfungsi ganda, tak sekedar sebagai tempat bagi warga Surabaya untuk bisa rileks menikmati suasana taman, namun fungsi lain taman yang dibuat antaran tahun 1900-an juga berfungsi sebagai penyerap polusi udara.
Pada malam hari, di sekitar kawasan Monumen Bambu Runcing banyak dikunjungi anak-anak muda. Selain mereka yang tergabung dalam klub motor, sebagian menikmati bersama teman atau keluarga sekedar menghabiskan waktu untuk mengbrol atau minum kopi.
Sementara pada minggu pagi, tempat di sekitaran Bambu Runcing ini kerap dijadikan tempat berolahraga, sekedar joging atau meng-gowes sepeda.
Di seputaran kawasan jalan Panglima Sudirman, tepat Monumen bambu Runcing ini berada, selain sebagai destinasi wisata, kawasan ini merupakan daerah sibuk, deretan bank-bank, hotel, restauran, toko dan kantor-kantor berdiri di tepi jalan ini. Hal ini merupakan buah besar kemerdekaan yang telah dicapai. Perjuangan para pendahulu bangsa yang berjuang demi kemerdekaan, berbuah menjadi pembangunan Kota Surabaya seperti sekarang ini. Monumen Bambu Runcing ini sendiri merupakan pengingat bagaimana perjuangan itu dulu dicapai dengan keringat, darah, dan air mata.
Wisatawan dapat mencapai monument bambu Runcing, Sebelum sampai di Jalan panglima Sudirman, bis kota akan melewati jalan Pemuda. Saat berbelok ke jalan Panglima Sudirman, wisatawan hendaknya menentukan pemberhentian di hatlte terdekat untuk turun. Nantinya, di tengah-tengah jalan Panglima Sudirman tersebut wisatawan dapat melihat Monumen Bambu Runcing persis berada di tengah jalan Panglima Sudirman. Di sebelah timurnya, terdapat Embong Ploso dan di sebelah barat terdapat jalan Embong Sawo.

Selasa, 24 Januari 2017

MONUMEN JALESVEVA JAYAMAHE

Monjaya Surabaya



Sejarah Singkat Monumen Jalesveva Jayamahe
Lahir atas dasar gagasan bahwa bagaimanapun majunya suatu bangsa hendaknya harus tetap berpijak pada sejarah, dalam artian bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya dibangunlah Monumen Jalesveva Jayamahe.

Pembangunan Monjaya diharapkan dapat menjadi penghargaan dan kenang-kenangan dari generasi penerus yang masih hidup, disamping itu diharapkan juga dapat memberi dorongan untuk meneruskan perjuangan mereka menuju kejayaan Angkatan laut dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia.

Dengan pembangunan monumen ini generasi penerus mencoba merekam langkah-langkah heroik  para pendiri dan sesepuh TNI Angkatan Laut dan sekaligus diharapkan dapat mengobarkan semangat perjuangan untuk mengisi kemerdekaan bagi generasi berikutnya.

Dipilihnya areal dermaga Ujung Surabaya sebagai tempat pendirian monumen ini  tidak dapat dilepaskan dari keberadaan dermaga itu di Surabaya yang menjadi saksi sejarah atas peristiwa perebutan Kaigun SE 21/24 Butai pada tanggal 3 Oktober 1945 yang ditandai dengan sumpah para Bahariwan Penataran Angkatan Laut (PAL) yaitu “ Saya rela dan ikhlas mengorbankan harta, benda maupun jiwa raga untuk Nusa dan Bangsa
Tahun 1990, setelah diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia genap berusia 45 tahun. Tongkat estafet perjuangan sepenuhnya telah dialihkan kepada generasi pengisi dan penerus kemerdekaan. Karena itu tahun 1990 dapat dianggap sebagai tonggak dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Diarsiteki oleh Drs. Nyoman Nuarta yang tergabung dalam Nyoman Nuarta Group, pada tahun 1990 Monjaya mulai dibangun dan bertepatan dengan hari Armada RI tanggal 5 Desember 1996 Monjaya Surabaya diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Monumen Jalesveva Jayamahe menggambarkan seorang Perwira Menengah TNI AL berpakaian lengkap tenue PDU-I menatap ke arah laut sebagai wakil generasi penerus dengan penuh keyakinan dan kesungguhan siap menerjang ombak dan menempuh badai menuju arah cita-cita bangsa Indonesia.

Patung dengan tinggi 31 meter tersebut berdiri di atas bangunan setinggi 29  meter. Pada bagian dinding dibuat diorama sejarah kepahlawanan para pejuang bahari/TNI Angkatan laut sejak jaman sebelum revolusi fisik sampai dengan tahun 1990-an. Selain itu, Monjaya juga berfungsi sebagai mercusuar pemandu bagi kapal – kapal yang melintas di laut sekitarnya.
Arti Jalesveva Jayamahe

Jalesveva Jayamahe atau yang seringkali diterjemahkan : "Di Lautan Kita Jaya" adalah Motto atau seruan TNI Angkatan Laut Indonesia.
Dalam Wikipedia bahasa Indonesia disebutkan, sebenarnya ungkapan ini berasal dari Bahasa Sanskerta; "Jales.eva Jayamahe" dan bisa dianalisa sebagai berikut:
jales.veva terdiri dari dua bagian: jales.u dan eva. Jales.u berasal dari kata dasar jala (maskulinum) yang berarti air dan jales.u adalah bentuk pluralis, lokativus dan secara harafiah bisa diterjemahkan sebagai: "di air-air".
eva adalah sebuah partikel emfatik dan bisa diterjemahkan dengan kata "-lah".
jayamahe, berasal dari kata kerja (verbum), ji, yang dikonjugasi menurut waktu presens, persona ketiga pluaralis dalam modus indikatif dan secara harafiah bisa diterjemahkan sebagai: "kita berjaya".
Jadi kalimat ini secara harfiah artinya adalah: "Di air-airlah kita berjaya!"